Kamis, 30 Mei 2013

LAPORAN LENGKAP MIKROBIOLOGI



I. PENDAHULUAN
A. Latar belakang
            Di alam mikroorganisme akan berinteraksi dengan mikroorganisme lain maupun tanaman. Salah satu jenis interaksi yang terjadi antara mikroorgaisme dengan tanaman adalah interaksi mutualisme. Interaksi mutualisme berarti mikroorganisme akan diuntungkan oleh kehadiran tanaman dan tanaman juga mendapat keuntungan dari kehadiran organisme tersebut. Dua jenis mikroorganisme yang menguntungkan dan telah dimanfaatkan oleh para petani yaitu Rhizobium dan mikoroza. Rhizobium adalah bakteri yang dapat membentuk bintil akar pada tanaman leguminose dan memiliki kemampuan untuk memfiksasi N2 dari atmosfer. Mikoroza adalah fungi akar yang memiliki fungsi yaitu dapat memperpanjang jangkauan akar dan dapat memasuki tanah dengan ukuran pori yang sangat kecil.
      Infeksi tumbuh-tumbuhan terjadi hanya pada rambut akar muda. Bakteri menerobos masuk pada ujung rambut akar dan tumbuh sebagai benang infeksi sampai ke dasarnya. Benang infeksi ini yang diliputi oleh membran selulosa kemudian menerobos dinding sel muda dari epidermis dan kulit akar.. Percabangan ini menyebabkan jaringan kortek membesar yang dapat dilihat sebagai bintil. Bintil-bintil ini merupakan hasil poliferasi jaringan yang terangsang oleh Rhizobium dengan perantara sesuatu faktor pertumbuhan.

            Berdasarkan uraian diatas sehingga praktikum ini perlu dilakukan untuk mengetahui keberadaan dan jenis-jenis dari bintil akar serta keefektivan kerja bakteri dalam bintil akar terhadap tanaman.
B. Rumusan Masalah
            Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam praktikum ini yaitu :
            Bagaimana cara rhizoma membentuk bintil akar pada bakteri ?
C. Tujuan dan Kegunaan
            Tujuan yang ingin dicapai dalam praktikum ini yaitu untuk mengetahui mikroorganisme yang bermanfaat bagi pertanian.







II. TINJAUAN PUSTAKA
Bakteri Rhizoma merupakan mikroba yang mampu mengikat nitrogen bebas yang berada di udara menjadi ammonia (NH3) yang akan diubah menjadi asam amino yang selanjutnya menjadi senyawa nitrogen yang diperlukan tanaman untuk tumbuh dan berkembang, sedangkan Rhizoma sendiri memperoleh karbohidrat sebagai sumber energi dari tanaman inang (Prayitno,  2000).
            Mikoriza merupakan asosiasi simbiotik antara akar tanaman dengan jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang, memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar, 2002).
            Bintil akar tidak selalu tumbuh di pangkal akar, ada juga yang tumbuh di ujung-ujung akar.Tidak selalu bintil akar dihuni oleh bakteri rhizoma yang tepat dan efektif.Bintil-bintil ini timbul karena infeksi rambut akar dengan bakteri dari dalam tanah. Bakteri yang menimbulkan bintil pada tanaman leguminosa, yaitu bakteri bintil, dikelompokan dalam genus Rhizoma ( Sadikin, 2004 )
      Bakteri-bakteri yang menimbulkan bintil pasa tanaman Leguminose, yaitu bakteri bintil, dikelompokkan dalam  genus Rhizobium. Batang-batang Gram-negatif ini yang hidup bebas dalam tanah, tumbuh secara anaerob ketat dengan senyawa organic sebagai nutrein. Bakteri-bakteri ini amat cepat memperbanyak diri, tumbuh menjadi sel dengan bentuk tidak teratur dengan volume 10-12 kali lipat dari Rhizobium yang dapat bebas, dan akhirnya terletak dalam sitoplasma sel-sel tumbuh-tumbuhan sebagai sel-sel individual ( Somaatmadja, 2004).
            Mengingat besarnya peranan bakteri Rhizoma, maka keberadaan bakteri tersebut perlu dikonservasi dan diisolasi dalam bentuk koleksi kultur. Koleksi kultur bakteri memberikan jaminan bahwa bakteri yang telah didiskripsikan tersimpan dengan aman dan baik, sehingga tersedia setiap saat untuk keperluan generasi sekarang dan masa mendatang. Untuk selanjutnya isolat-isolat bakteri dari daerah tersebut yang akan digunakan kembali di kawasan ini sehingga mempunyai peluang keberhasilan yang lebih tinggi dari pada penggunaan inokulasi yang berasal dari lokasi lain (Anas, 2008).







III. METODOLOGI PELAKSANAAN
A.      Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, 26 April 2013 pada pukul 08:00 WITA sampai selesai, bertempat di Laboratorium Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan (IHPT) Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo Kendari.
B. Alat dan Bahan
            Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu : Mikroskop, Pisau Operasi, dan alat tulis.
            Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu : Slide dari akar anaman terinfeki AM, Slide dari akar tanaman tidak terinfeksi AM, Akar tanaman terinfeksi Rhizoma dan Akar tanaman tidak terinfeksi Rhizoma
C. Prosedur Pelaksanaan
            Prosedur pelaksanaan praktikum kali ini adalah sebagai berikut.
1.Mmengumpulkan akar tanaman Leguminose. Amati akar tanaman leguminose, jika terdapat bintil akar amati warna bintil akar dan lakukan pemecahan bintil dengan pisau operasi.
2. Melakukan pengamatan pada slide akar yang teah disediakan. Jelaskan perbedan yang anda peroleh dari pengamatan yang bermikoriza dengan akar yang tidak di infeksi mikoriza.
3. Membuat laporan dari hasil pengamatan rhizobium  disertai tinjauan pustaka mengenai kedua miroorganisme ini secara singkat.












IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
            Adapun hasil pengamatan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
Rhizobium
1.      Nama tanaman inang                          :           kacang tanah
2.      Lokasi pengambilan tanaman inang    :           Laboratorium IHPT
3.      Jumlah bintil akar                                :           1
4.      Bentuk bintil akar                               :           lonjong
5.      Warna bintil akar                                 :           coklat
6.      Ukuran diameter bintil akar                :           0,3 / 3mm
7.      Jumlah bintil akar berdasarkan posisinya
a.       Pada akar primer                     :           1
b.      Pada akar sekunder                 :           -
c.       Pada akar tersier                      :           -




B. Pembaasan
            Tanaman kacang-kacangan atau legum adalah tanaman yang unik,contoh tanaman ini adalah kacang tanah. Pada tanaman ini biasanya terdapat bintil-bintil kecil pada akarnya. Di bintil akar inilah terdapat Rhizobium sp. Rhizoma memiliki kemampuan luar biasa yang tidak banyak dimiliki oleh mikroba lain, yaitu kemampuan untuk menambat N langsung dari udara. Seperti kita tahu bahwa kandungan utama udara adalah gas nitrogen yang lebih dari 70% kandungan udara. Meskipun melimpah tanaman tidak bisa langsung menyerap kandungan N dari udara.
            Sebagian besar dari N2 dihasilkan oleh simbiosis Rhizoma. Ada hubungan antara bintil-bintil Leguminose dengan senyawa N2. Tanaman kacang-kacangan akan tetap tumbuh walaupun tidak ada Nitrogen kalau paksa akarnya terdapat bintil-bintil ini, bintil-bintil ini timbul karena infeksi rambut akarnya dengan bakteri dari dalam tanah. Infeksi tumbuh-tumbuhan terjadi hanya pada rambut akar muda. Bakteri menerobos masuk pada ujung rambut akar dan tumbuh sebagai benang infeksi sampai ke dasarnya. Benang infeksi ini yang diliputi oleh membran selulosa kemudian menerobos dinding sel muda dari epidermis dan kulit akar. Kalau bakteri ini berjumpa dengan sebuah sel tetraploid dan jaringan kulit, maka sel ini dan sel-sel diplois yang ada di sekelilingnya terangsang untuk membelah, benang infwekinya bercabang dan membagi diri pada sel tetraplois.


V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
            Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini yaitu ;
Sejalan dengan masuknya bakteri akar membentuk benang infeksi yang didalamnaya ada bakterin bintil. Benang infeksi terus bekembang sampai dikotreks dan mengadakan percabangan. Percabangan ini menyebabakan jaringan korteks ini membesar yang dapat dilihat sebagai bintil. Ditempat ini terjadi fiksai N. Fiksai N hanya terjadi dalam bakteroid, nitrogen yang difiksasi dilepaskan ke dalam sitoplasma sel-sel hospes 95% sebagai ion-ion ammonium.
B. Saran
       Saran yang dapat saya berikan dalam praktikum ini yaitu kepada asisten agar  memperhatikan keaktifan tiap-tiap praktikan .






DAFTAR PUSTAKA
Anas, 2008. Mikroba penambat nitrogen dan pelarut fosfat dari rhizosfer padi dan tanah rawa kawasan PLG satu juta hektar, Kalimantan Tengah. Bandar Lampung.
Iskandar, 2002. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan Marginal. Malang.
Prayitno, 2000. Analisis Mikroorganisme di Lab. Erlangga. Jakarta.
Sadikin. 2004. Kedelai . Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.
Somaatmadja, 2004. Mikrobiologi Umum.: Gadjah Mada University Press. Yogyakarta






TOLERANSI TANAMAN



I.         PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Pohon adalah tumbuhan berkayu yang memiliki diameter 30 cm keatas  dan tinggi mencapai kurang lebih 4 meter keatas serta memiliki batang pokok yang jelas dan pertumbuhananya mengarah keatas. Pohon-pohon toleran adalah jenis pohon yang tumbuh memmbutuhkan naungan dari jenis pohon lainnya. Pohon toleran berproduksi dan membentuk lapisan tajuk dibawah pohon-pohon yang kurang toleran bahkan dibawah naungannya sendiri, sedangkan jenis pohon intoleran adalah jenis pohon yang tumbuh membutuhkan cahaya sinar matahari penuh.
Cahaya merupakan faktor lingkungan yang sangat penting sebagai sumber energi utama bagi ekosistem. Cahaya matahari adalah sumber energi utama bagi kehidupan seluruh makhluk hidup di dunia.  Dimana cahaya matahari ini digunakan oleh tanaman untuk melakukan proses fotositensis yang nantinya dari hasil proses fotosintesis tersebut digunakan oleh tumbuhan untuk berlangsungnya proses metabolisme yang terjadi di dalam tumbuhan. Dalam melakukan penanaman pohon perlu diperhatikan bersifat toleran dan intoleran yakni tumbuhan yang berbeda-beda menerima cahaya matahari dengan cara membutuhkan bantuan naungan dari jenis tanaman lain dan juga tidak membutuhkan naungan.
Oleh karena itu, praktikum ini perlu dilakukan agar dapat mengetahui jenis tanaman yang termasuk toleran dan intoleran.
B.           Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dilaksanakannya praktikum ini yaitu agar mahasiswa dapat mengetahui jenis tanaman toleran dan intoleran.
Kegunaan melaksanakan praktikum ini yaitu untuk mengetahui jenis tanaman toleran dan intoleran.










II.        TINJAUAN PUSTAKA
Toleransi adalah istilah kehutanan untuk menyatakan kemampuan relatif pohon untuk bersaing pada persaingan cahaya rendah dan perakaran yang tinggi. Pohon-pohon toleran berproduksi dan membentuk lapisan tajuk dibawah kanopi pohon-pohon yang kurang toleran atau bahkan dibawah naungannya sendiri. Pohon-pohon intoleran berproduksi dengan sukses hanya ditempat terbuka atau bila kanopi terbuka lebar (Daniel, 1987).
Penaungan mengakibatkan perubahan terhadap cahaya matahari yang diterima tanaman, baik intensitas maupun kualitasnya. Pengaruh cahaya terhadap tanaman sangat kompleks, yaitu mempengaruhi proses fotokomia dan juga bentuk dan ukuran tanaman, sehingga akan berpengaruh terhadap hasil akhir tanaman(Woodward dan Sheely. 1983; dalam Sundari 2005).
Pemberian naungan pada tanaman baik secara alami  dan buatan akan berarti mengurangi intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman tersebut, hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan maupun hasil tanaman. Tanaman yang kurang mendapatkan cahaya matahari akan mempunyai akar yang pendek, cahaya matahari penuh yang menghasilkan akar lebih panjang dan lebih bercabang (Darmajaya, 2008).
Setiap tanaman atau jenis pohon mempunyai toleransi yang berlainan terhadap cahaya matahari. Ada tanaman yang tumbuh baik ditempat terbuka sebaliknya ada beberapa tanaman yang dapat tumbuh dengan baik pada tempat teduh/bernaungan. Ada pula tanaman yang memerlukan intensitas cahaya yang berbeda sepanjang periode hidupnya. Pada waktu masih muda memerlukan cahaya dengan intensitas rendah dan menjelang sapihan mulai memerlukan cahaya dengan intensitas tinggi (Soekotjo,1976 dalam Faridah, 1995).
Sebagian dari jenis-jenis dipterocarpaceae terutama untuk jenis kayu yang mempunyai berat jenis tinggi atau tenggelam dalam air atau sebagian lagi tergolong jenis semi toleran atau gap appertunist yaitu jenis-jenis yang memiliki kayu terapung atau berat jenis rendah. Kebutuhan cahaya untuk pertumbuhannya diwaktu muda (tingkat anakan) berkisar antara 50 – 85 % dari cahaya total. Untuk jenis-jenis semitoleran naungan untuk anakan diperlukan sampai umur 3 – 4 tahun atau sampai tanaman mencapai tinggi 1 – 3 meter. Sedangkan untuk jenis-jenis toleran lebih lama lagi yaitu 5 – 8 tahun. Sangat sedikit jenis yang tergolong intoleran antara lain Shorea concorta (Rasyid, 1991 dalam Oben 2010).









III.   METODOLOGI  PRAKTIKUM

A.           Lokasi dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan di Persemaian Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo Kendari pada hari Selasa tanggal 8 Maret 2011 pukul 13.00 sampai selesai
B.            Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu tanaman Longkida (Nauclea orientalis), Jabon (Anthocephalus cadamba), Albizia splendenz, Sengon (Paraserianthes falcataria), tali rapia, kayu penyangga, palang dan bambu kecil/lidi.
 Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu parang, mistar ukur, dan kaliper, dan alat tulis menulis.
C.       Prosedur Pelaksanaan
-            Penyiapan Tanaman
Bibit tanaman yang digunakan adalah bibit tanaman yang berasal dari persemaian.
-            Pemeliharaan
Bibit tanaman disimpan ditempat teduh (naungan) dan pada daerah terbuka untuk mengetahui reaksi tanaman terhadap cahaya. Tanaman disiram tiap hari. Parameter yang diukur untuk mengetahui toleransi tanaman adalah peubah tinggi, diameter dan jumlah daun. Pengamatan dilakukan setiap minggu selama 4 minggu.





















IV.    HASIL DAN PEMBAHASAN
A.  Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan pada  praktikum toleransi tanaman terhadap cahaya disajikan pada tabel 6, tabel 7 dan tabel 8.
a.         Tabel 6. Pengamatan terhadap toleran (A) dan intoleran (B) pada pengukuran tinggi tanaman Longkida (Nauclea orientalis)
Kode Tanaman

Minggu Ke-
0
I
II
III
A1
A2
A3
A4
A5
A6
A7
A8
A9
A10
20.5
20.6
23.1
18.7
23.4
25.5
25.3
22.8
21.1
21
21.4
21
23.7
19.5
24
25.7
25.4
23
21.3
21.2
22
21.5
24
19.8
24.2
26.2
25.5
23.8
21.5
21.5
24
22.1
25.1
20.1
25
26.5
25.7
23.9
22
22.1
B1
B2
B3
B4
B5
B6
B7
B8
B9
B10
22
25.6
20.7
22.3
24
22.8
25.3
24.7
19.5
21.7
23.2
25.7
21.2
23.1
24.2
23
25.5
24.3
19.9
22
23.5
26
21.6
23.6
24.6
23.1
25.7
24.6
20
22.7
24
26.2
22
24.2
25
23.7
26
24.8
20.5
22.9




b.        Tabel 7. Pengamatan terhadap toleran (A) dan intoleran (B) pada pengukuran diameter  tanaman Longkida (Nauclea orientalis)
Kode Tanaman

Minggu Ke-
0
I
II
III
A1
A2
A3
A4
A5
A6
A7
A8
A9
A10
0.52
0.50
0.48
0.52
0.42
0.60
0.48
0.52
0.52
0.54
0.54
0.52
0.50
0.58
0.48
0.62
0.50
0.54
0.54
0.56
0.60
0.60
0.52
0.64
0.50
0.62
0.50
0.56
0.56
0.58
0.68
0.62
0.54
0.68
0.52
0.64
0.51
0.56
0.58
0.60
B1
B2
B3
B4
B5
B6
B7
B8
B9
B10
0.60
0.48
0.62
0.42
0.48
0.62
0.50
0.62
0.60
0.52
0.64
0.50
0.68
0.50
0.52
0.64
0.52
0.64
0.60
0.54
0.78
0.54
0.78
0.58
0.54
0.64
0.54
0.70
0.62
0.60
0.80
0.60
0.80
0.62
0.60
0.66
0.56
0.72
0.64
0.62









Tabel 8. Pengamatan terhadap toleran (A) dan intoleran (B) pada pengukuran jumlah daun  tanaman Longkida (Nauclea orientalis)

Kode Tanaman

Minggu Ke-
0
I
II
III
A1
A2
A3
A4
A5
A6
A7
A8
A9
A10
20
14
11
12
10
8
10
12
8
14
21
13
13
13
11
10
12
13
10
15
24
14
13
12
11
10
12
11
9
15
22
15
14
13
12
12
13
11
12
14
B1
B2
B3
B4
B5
B6
B7
B8
B9
B10
12
10
16
13
15
8
9
10
11
8
9
8
16
13
14
9
11
10
11
11
9
9
15
12
13
9
11
10
10
10
8
7
14
12
13
12
13
12
12
11

B. Pembahasan
Suatu jenis tanaman harus memperhatikan kebutuhan akan cahaya matahari. Jenis pohon memiliki sifat  toleran adalah jenis pohon untuk hidupnya membutuhkan naungan dari jenis pohon lainnya, sedangkan  jenis pohon yang memilki sifat intoleran adalah jenis pohon yang untuk hidupnya membutuhkan cahaya matahari penuh.
Berdasarkan hasil pengamatan pada tanaman longkida (Nauclea orientalis) dapat dilihat adanya perbedaan antara tanaman yang disimpan ditempat terbuka dan tanaman yang disimpan ditempat yang toleran atau tertutup. Tetapi tanaman longkida yang disimpan ditempat toleran pertumbuhannya baik dilihat dari pertambahan tinggi, diameter serta pada daun. Hal ini disebabkan bahwa tanaman ini dapat tumbuh dan berkembang pada daerah yang toleran atau tertutup.
             Hasil pengamatan tanaman longkida (Nauclea orientalis)  pada daerah toleran menunjukan adanya pertambahan tinggi yang baik dan bertambahnya jumlah daun dari minggi ke minggu seperti pada tanaman A1 dimana tinggi pohon pada minggu ke I 21,4 cm, minggu ke II bertambah 22 minggu ke III 24 dan minggu ke IV 24,7 dimana sebelum dilakukannya pengukuran tinggi tanaman awalnya yaitu 20,5. Kemudian bertambah besarnya diameter batang dari minggu ke minggu pada tanaman ini yang dapat dilihat pada tabel tanaman toleran. Begitu juga pada daun pada minggu  ke I sebanyak 21 helai daun, minggu ke II-III bertamabah menjadi 23 helai dan pada minggu ke IV bertambah menjadi 25 helai daun. Hal ini dikarenakan adanya kecocokan tanaman longkida dengan daerah pertumbuhannya karena tanaman ini memperoleh penyinaran matahari sesuai yang dikehendaki tanaman tersebut.
            Pada hasil pengamatan tanaman longkida yang ditempatkan pada daerah yang intoleran dimana adanya pertambahan tinggi dan besarnya diameter dari minggu ke minggu yang dapat dilihat jelas pada tabel tanaman intoleran. Tetapi pada pertambahan jumlah daun mengalami penurunan atau berkurangnya jumlah daun dari minggu ke minggu yaitu misalnya pada tanaman AI minggu ke I-II jumlah helai daun berjumlah 9 dan pada minggu ke III-IV mengalami pengurangan helai daun yaitu 8 dimana yang sebelumnya awal jumlah daun keseluruhan berjumlah 12 helai daun. Hal ini disebabkan karena daunnya gugur dan mati. Berarti dalam hal ini tanaman ini dapat tumbuh sangat baik pada daerah yang toleran atau tertutup.
Jadi, pertumbuhan tanaman longkida (Nauclae orienralis) yang disimpan pada tempat yang terbuka pertumbuhannya lebih lambat dan menggugurkan daun dibandingkan tanaman yang ditempatkan pada daerah yang toleran dilihat pada berkurangnya jumlah daun dari minggu ke minggu.













V.  KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan                                        
            Tanaman yang termasuk toleran adalah Longkida (Nauclae orientalis), Sengon (Paraserianthes falcataria ), Albizia splendenz dan tanaman yang termasuk tanaman intoleran yaitu Jabon (Anthocephalus cadamba) dan Merbau (Intsia bijuga).
            Berdasarkan hasil pengamatan pada tanaman longkida (Nuclea orientalis) pada daerah toleran bahwa adanya pertambahan tinggi, diameter dan bertambahnya helai daun setiap minggunya, sedangkan pengamatan pada daerah yang intoleran bahwa adanya pertambahan tinggi dan diameter tetapi jumlah daunnya berkurang.
B. Saran
       Hendaknya dalam melakukan pengukuran memperhatikan cara pengukuran dan pembacaan skala pada alat ukur agar hasilnya tidak mengalami bias yang terlalu tinggi.







DAFTAR PUSTAKA

Darmajaya. 2008. Kemampuan Tanaman Menyerap Cahaya. Universitas Gadja Mada. Yogyakarta.

Daniel W.T. Terjemahan Marsono, Dr. Ir. Djoko. 1987. Prinsip-Prinsip Silvikultur. Gadjah Mada University. Press UGM. Yogyakarta.
Faridah,1995. Pengaruh Cahaya Terhadap Pertumbuhan Tanaman. http://silvika.atspace.com/acara3.html. [8 Maret 2011].
Oben. 2010. Toleransi dan Kelas Tajuk. http://obenoob.blogspot.com/2010/12/bahan-kuliah-silvika.html. [8 Maret 2011].
Sundari T. 2005. Keragaan Hasil Dan Toleransi Genotipe Kacang Hijau Terhadap Penaungan. http://www.silvikultur.com/2010/11/pengaruh-cahaya-terhadap-pertumbuhan-tanaman/. [8 Maret 2011].