I.
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Di alam mikroorganisme akan
berinteraksi
dengan mikroorganisme lain maupun tanaman. Salah satu jenis interaksi yang
terjadi antara mikroorgaisme dengan tanaman adalah interaksi mutualisme.
Interaksi mutualisme berarti mikroorganisme akan diuntungkan oleh kehadiran
tanaman dan tanaman juga mendapat keuntungan dari kehadiran organisme tersebut.
Dua jenis mikroorganisme yang menguntungkan dan telah dimanfaatkan oleh para
petani yaitu Rhizobium dan mikoroza. Rhizobium
adalah bakteri yang dapat membentuk bintil akar pada tanaman leguminose dan
memiliki kemampuan untuk memfiksasi N2 dari atmosfer. Mikoroza
adalah fungi akar yang memiliki fungsi yaitu dapat memperpanjang jangkauan akar
dan dapat memasuki tanah dengan ukuran pori yang sangat kecil.
Infeksi tumbuh-tumbuhan terjadi hanya pada rambut akar muda.
Bakteri menerobos masuk pada ujung rambut akar dan tumbuh sebagai benang
infeksi sampai ke dasarnya. Benang infeksi ini yang diliputi oleh membran
selulosa kemudian menerobos dinding sel muda dari epidermis dan kulit akar..
Percabangan ini menyebabkan jaringan kortek membesar yang dapat dilihat sebagai
bintil. Bintil-bintil ini merupakan hasil poliferasi jaringan yang terangsang
oleh Rhizobium dengan perantara sesuatu faktor pertumbuhan.
Berdasarkan
uraian diatas sehingga praktikum ini perlu dilakukan untuk mengetahui
keberadaan dan jenis-jenis dari bintil akar serta keefektivan kerja bakteri dalam bintil akar terhadap
tanaman.
B.
Rumusan Masalah
Adapun
yang menjadi rumusan masalah dalam praktikum ini yaitu :
Bagaimana
cara rhizoma membentuk bintil akar
pada bakteri ?
C.
Tujuan dan Kegunaan
Tujuan yang
ingin dicapai dalam praktikum ini yaitu untuk mengetahui mikroorganisme yang
bermanfaat bagi pertanian.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Bakteri
Rhizoma merupakan
mikroba yang mampu mengikat nitrogen bebas yang berada di udara menjadi ammonia
(NH3) yang akan diubah menjadi asam amino yang selanjutnya menjadi senyawa
nitrogen yang diperlukan tanaman untuk tumbuh dan berkembang, sedangkan Rhizoma sendiri
memperoleh karbohidrat sebagai sumber energi dari tanaman inang (Prayitno, 2000).
Mikoriza merupakan asosiasi simbiotik antara akar tanaman
dengan jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat
yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur
tersebut tumbuh dan berkembang biak. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah
menginfeksi sistem perakaran tanaman inang, memproduksi jalinan hifa secara
intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu
meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar, 2002).
Bintil akar
tidak selalu tumbuh di pangkal akar, ada juga yang tumbuh di ujung-ujung
akar.Tidak selalu bintil akar dihuni oleh bakteri rhizoma yang tepat dan
efektif.Bintil-bintil ini timbul karena infeksi rambut akar dengan bakteri dari
dalam tanah. Bakteri yang menimbulkan bintil pada tanaman leguminosa, yaitu
bakteri bintil, dikelompokan dalam genus Rhizoma ( Sadikin, 2004 )
Bakteri-bakteri
yang menimbulkan bintil pasa tanaman Leguminose, yaitu bakteri bintil,
dikelompokkan dalam genus Rhizobium. Batang-batang Gram-negatif ini yang
hidup bebas dalam tanah, tumbuh secara anaerob ketat dengan senyawa organic
sebagai nutrein. Bakteri-bakteri ini amat cepat memperbanyak diri, tumbuh
menjadi sel dengan bentuk tidak teratur dengan volume 10-12 kali lipat dari
Rhizobium yang dapat bebas, dan akhirnya terletak dalam sitoplasma sel-sel
tumbuh-tumbuhan sebagai sel-sel individual ( Somaatmadja, 2004).
Mengingat
besarnya peranan bakteri Rhizoma, maka keberadaan
bakteri tersebut perlu dikonservasi dan diisolasi dalam bentuk koleksi
kultur. Koleksi kultur bakteri memberikan jaminan bahwa bakteri yang
telah didiskripsikan tersimpan dengan aman dan baik, sehingga tersedia
setiap saat untuk keperluan generasi sekarang dan masa mendatang.
Untuk selanjutnya isolat-isolat bakteri dari daerah tersebut yang
akan digunakan kembali di kawasan ini sehingga mempunyai peluang
keberhasilan yang lebih tinggi dari pada penggunaan inokulasi yang berasal dari lokasi lain
(Anas, 2008).
III.
METODOLOGI PELAKSANAAN
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, 26 April 2013 pada pukul
08:00 WITA sampai selesai, bertempat di Laboratorium Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan
(IHPT) Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo Kendari.
B.
Alat dan Bahan
Alat yang
digunakan pada praktikum ini yaitu : Mikroskop, Pisau Operasi, dan alat tulis.
Bahan
yang digunakan dalam praktikum ini yaitu : Slide dari akar anaman terinfeki AM,
Slide dari akar tanaman tidak terinfeksi AM, Akar tanaman terinfeksi Rhizoma dan Akar tanaman tidak terinfeksi Rhizoma
C.
Prosedur Pelaksanaan
Prosedur
pelaksanaan praktikum kali ini adalah sebagai berikut.
1.Mmengumpulkan akar tanaman Leguminose.
Amati akar tanaman leguminose, jika terdapat bintil akar amati warna bintil
akar dan lakukan pemecahan bintil dengan pisau operasi.
2. Melakukan pengamatan pada slide akar yang
teah disediakan. Jelaskan perbedan yang anda peroleh dari pengamatan yang
bermikoriza dengan akar yang tidak di infeksi mikoriza.
3. Membuat laporan dari hasil pengamatan
rhizobium disertai tinjauan pustaka
mengenai kedua miroorganisme ini secara singkat.
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Adapun hasil pengamatan pada
praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
Rhizobium
1. Nama
tanaman inang : kacang tanah
2. Lokasi
pengambilan tanaman inang : Laboratorium IHPT
3. Jumlah
bintil akar : 1
4. Bentuk
bintil akar :
lonjong
5. Warna
bintil akar : coklat
6. Ukuran
diameter bintil akar : 0,3 / 3mm
7. Jumlah
bintil akar berdasarkan posisinya
a. Pada
akar primer : 1
b. Pada
akar sekunder : -
c.
Pada akar tersier : -
B.
Pembaasan
Tanaman kacang-kacangan atau legum adalah tanaman yang
unik,contoh tanaman ini adalah kacang tanah. Pada tanaman ini biasanya terdapat
bintil-bintil kecil pada akarnya. Di bintil akar inilah terdapat Rhizobium sp. Rhizoma memiliki kemampuan luar biasa yang
tidak banyak dimiliki oleh mikroba lain, yaitu kemampuan untuk menambat N
langsung dari udara. Seperti kita tahu bahwa kandungan utama udara adalah gas
nitrogen yang lebih dari 70% kandungan udara. Meskipun melimpah tanaman tidak
bisa langsung menyerap kandungan N dari udara.
Sebagian besar dari N2 dihasilkan oleh simbiosis Rhizoma. Ada hubungan antara bintil-bintil
Leguminose dengan senyawa N2. Tanaman kacang-kacangan akan tetap tumbuh
walaupun tidak ada Nitrogen kalau paksa akarnya terdapat bintil-bintil ini,
bintil-bintil ini timbul karena infeksi rambut akarnya dengan bakteri dari
dalam tanah. Infeksi tumbuh-tumbuhan terjadi hanya pada rambut akar muda.
Bakteri menerobos masuk pada ujung rambut akar dan tumbuh sebagai benang
infeksi sampai ke dasarnya. Benang infeksi ini yang diliputi oleh membran
selulosa kemudian menerobos dinding sel muda dari epidermis dan kulit akar.
Kalau bakteri ini berjumpa dengan sebuah sel tetraploid dan jaringan kulit,
maka sel ini dan sel-sel diplois yang ada di sekelilingnya terangsang untuk
membelah, benang infwekinya bercabang dan membagi diri pada sel tetraplois.
V.
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Simpulan
Kesimpulan yang
dapat diambil dari praktikum ini yaitu ;
Sejalan
dengan masuknya bakteri akar membentuk benang infeksi yang didalamnaya ada
bakterin bintil. Benang infeksi terus bekembang sampai dikotreks dan mengadakan
percabangan. Percabangan ini menyebabakan jaringan korteks ini membesar yang
dapat dilihat sebagai bintil. Ditempat ini terjadi fiksai N. Fiksai N₂ hanya terjadi dalam bakteroid,
nitrogen yang difiksasi dilepaskan ke dalam sitoplasma sel-sel hospes 95% sebagai
ion-ion ammonium.
B.
Saran
Saran yang
dapat saya berikan dalam praktikum ini yaitu kepada asisten agar memperhatikan keaktifan tiap-tiap praktikan
.
DAFTAR PUSTAKA
Anas,
2008. Mikroba penambat nitrogen dan pelarut fosfat dari rhizosfer padi dan
tanah rawa kawasan PLG satu juta hektar, Kalimantan Tengah. Bandar Lampung.
Iskandar,
2002. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan
Marginal. Malang.
Prayitno,
2000. Analisis Mikroorganisme di Lab. Erlangga. Jakarta.
Sadikin. 2004. Kedelai
. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.
Somaatmadja,
2004. Mikrobiologi Umum.:
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta